Tuesday, August 23, 2005

perubahan


Manusia berubah. Pasti. Setidaknya gue merasakan perubahan ketika kemarin malam menghabiskan waktu sejam untuk ngobrol dengan kakak gue yang kedua (dengan usia terpaut 13 tahun), bang Didit. Dia berubah, mungkin, gue juga berubah. Setidaknya selama sejam dalam kamar orangtua kami, yang ada hanyalah obrolan dari hati ke hati, bukan tendang-tendangan seperti biasanya :)

Akhirnya, kemarin malam gue dan dia ngobrolin tentang komitmen, dan perubahan seseorang. Shock juga sih! Biasanya gue gak bakal ngomongin hal-hal seserius itu sama dia. Ternyata, umur dan tiga anak perempuan bisa memberikan perubahan yang amat signifikan untuk seseorang. Setidaknya untuk abang gue.

Besok, gue ulang tahun ke duapuluh. Lucu juga. Aneh. Selama sepuluh tahun gue terbiasa nulis umur dengan angka “1” di depan. Besok, insya Allah untuk sepuluhtahun mendatang, gue akan terbiasa nulis angka “2” di depan. Berarti, mulai besok, gue dan sapi sama-sama berkepala “2”. Lumayanlah, setidaknya sampai April tahun depan. ;)

Ngomongin perubahan semalam, bikin gue deg-deg an juga. Karena manusia berubah; pasti gue dan sapi juga berubah. Hubungan kami pun akan berubah, insya Allah, Januari menikah. Berarti melewati seumur hidup bareng. Jadi saksi hidup masing-masing. Dan seumur hidup adalah jangka waktu yang cukup lama untuk melihat perubahan masing-masing. Entah apa perubahan itu, baik atau buruk. Aneh, senang, gugup dan seluruh perasaan bercampur aduk. Pertanyaan siap gak untuk perubahan? Dan apa yang akan berubah? [Karena, jujur, rasanya lebih mudah untuk nerima perubahan diri sendiri dibanding perubahan orang yang deket sama lo. Apalagi kalau gak sesuai dengan yang lo harapin] Tiba-tiba menghantui gue.

Tapi, gue sadar satu hal. Gue gak bisa menghindar dan setidaknya gue punya pegangan untuk semua perubahan itu. Tuhan dan komitmen yang bakal gue bikin nanti. Dan Insya Allah, gue bisa ngomong ke sapi dan begitu juga sebaliknya. Belum lagi dukungan dari orang-orang terdekat.

Ya... masalah pasti bakal ada, sama aja kayak perubahan. Bukannya sok puitis, tapi tiap gue bangun dan lihat masih ada matahari. Tenang aja, entah gimana jalannya tiap masalah pasti selesai :D seperti hidup yang pasti selesai.

Ps: Pi... Ini tahun yang ajaib untuk aku, apalagi karena ada kamu :)
Seharusnya MURI atau Guinness Book of Records mencatat rekor untuk kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia.

Maaf.

Saturday, August 20, 2005

'Sapi', i love your way everyday ;)


Rabu (17 Agustus 2005), seperti Rabu sebelumnya. Gue menonton ROCKSTAR: INXS. Huhuhu... i love that show! Terus, MIG AYESA, rockstar favorit gue menyanyikan lagu: Baby, I Love Your Way (Peter Frampton) Cuma pake grand piano. Huff... gue langsung merinding sekujur tubuh. Baguuuuus banget! Yang jelas gue langsung keingat si Sapi [kamis-nya, abis elimination night, gue kirimin penggalan liriknya ke sapi]. Hehehe. Gak Cuma gue sih, INXS, Dave Navarro (dia terharu gara-gara inget gimana dia sayang istrinya, Carmen Electra) dan Mig Ayesa kelihatan emosional banget pas nyanyi. Di blog nya, Mig nulis:
” In the second verse, I got a bit too emotional thinking of my wife, Simone -- so much so that I got all choked up for my last note and it was nowhere it should've been!”

Makanya gue suka banget sama Mig. Dia baik, tidak sombong, suaranya bagus dan (yang paling utama) sayang istri. Hahaha :D

Berhubung gue (amat sangat) gak bisa nyanyi dan si Sapi gak nonton rockstar. Gue search deh lirik nya untuk dia.


BABY I LOVE YOUR WAY (Peter Frampton)

Shadows grow so long before my eyes And they're moving across the page Suddenly the day turns into night Far away from the city but don't hesitate 'Cause your love won't wait hey Ooh baby I love your way every day Wanna tell you I love your way every day Wanna be with you night and day

Moon appears to shine and light the sky With the help of some fireflies I wonder how they have the power shine shine shine I can see them under the pines But don't hesitate 'cause your love won't wait hey Ooh baby I love your way every day Wanna tell you I love your way every day Wanna be with you night and day uh yeah

But don't hesitate 'cause your love won't wait I can see the sunset in your eyes Brown and grey and blue besides Clouds are stalking islands in the sun Wish I could dry one out of season But don't hesitate 'cause your love won't wait hey Ooh baby I love your way every day Wanna tell you I love your way uuhh Wanna be with you night and day Ooh baby I love your way every day Wanna tell you I love your way uuhh Wanna be with you night and day

Ps: tapi lebih merinding pas denger kamu nyanyi untukku kok! :) hehehe. Bisa aja ya ngegombalnya? ;p




Wednesday, August 03, 2005

Orangtua.

Seumur hidup, Gue akan selalu teringat kalimat ini dari review “Cinta Silver” di TEMPO edisi 25 – 31 Juli 2005;
“ Sebetulnya ini adalah bagian sosiologi yang menarik karena
anak-anak Indonesia, setua apapun, memang masih harus “ikhlas” dengan
intervensi orang tua, mulai dari pilihan pasangan, perkawinan, hingga gaya
hidup berkeluarga...”
Pas makan malam, orangtua gue cerita tentang adik laki-laki dari seorang teman mereka (yang orangtua gue bela-belain dateng ke rumahnya di Bintaro sektor 1, dari rumah gue di Pondok Kelapa, demi sebuah CD-ROM berisi nama-nama temen bokap untuk undangan nikah. Salah gue juga sih, kalo tau dalam bentuk data, kenapa juga gak lewat e-mail?) Oya... jadi adik laki-laki itu, sebut aja Z, seorang dokter –jadi panggil dia dr. Z – udah berumur 55 tahun dan belum nikah. Well... awalnya gue udah menyangka “ah! Palingan dia keasikan kerja [dan seharusnya nonton Cinta Silver, hehehe, promosi!]”

Ternyata...

Ternyata dia sudah jatuh cinta setengah mati dengan seorang perempuan warga negara Jerman, teman kuliahnya dulu, sebut saja dr. Y. Tapi, rencana mereka berdua untuk menikah ditentang habis-habisan oleh orangtua (dan keluarga) kedua belah pihak. Dr. Y dilarang pindah ke Indonesia dan dr. Z dilarang pindah ke Jerman. Akhirnya, sampai sekarang mereka berdua gak nikah. Masih berhubungan (pacaran atau apalah namanya) tapi tetep gak nikah. Jadi, kalau dr. Y datang ke Indonesia, dr. Z akan rela cuti dari kerjanya selama dr. Y disini dan nemenin dia jalan-jalan keliling Indonesia.

Huhuhu.. menyedihkan! Walau tadi gue dan bokap gak habis pikir kenapa keluarga mereka berdua gak bijak atau kenapa dr. Z gak pergi aja ke Jerman aja. Nikah and happily ever after. Tapi, tau apa sih kita berdua? Gak tau masalahnya secara mendetail juga. Ya sudahlah... Mari kita doakan dr. Y dan dr. Z akhirnya bahagia aja.

Tapi... Apa orangtua emang harus mengintervensi sekeras itu? Gak peduli di Indonesia atau di Jerman?

Hmm... untungnya orangtua gue gak ‘sekeras’ itu mengintervensi hidup gue. Alhamdulillah, gue dikasih kebebasan untuk milih dengan siapa gue nikah dan di umur berapa gue nikah. Bukan berarti gue dibebasin gitu aja, mereka (akhirnya) menerima betul alasan gue dan Sapi kenapa mau nikah sekarang. Begitu juga dengan orangtua Sapi, (akhirnya) mereka juga nerima dengan ikhlas.

Yaa... itupun setelah perjuangan gerilya dulu. Tapi, sekali lagi, alhamdulillah... gak dikasih kesulitan yang berarti sama Allah swt.

Sekarang, gue lagi ribet mikirin daftar undangan. Blaah...!!! mana tadi bokap mengejutkan gue dan nyokap kalau ternyata undangannya banyak [damn! Kenapa sih CD ROM nya gak error aja?]. Pas gue daftar undangan gue ternyata gak kalah banyaknya dan gue udah mentok untuk ngecoret nama. Dulu aja pas ulang tahun ke 10, sama nyokap, gue Cuma dikasih jatah undang 15 orang. Akhirnya, setelah gue bagi-bagi undangan yang 15 itu... gue gak tega. Terus maju ke papan tulis, nulis undangan massal. Alhasil, yang dateng sekelas (plus tetangga plus adek atau kakaknya) dan Ulang tahun ke 10 gue dirayain secara meriah walau tetap sederhana. Hahaha... dulu sih lucu! dan orangtua gue maklumin banget. Sekarang kalau kejadiannya gitu, mungkin gue ditampar di pelaminan gara-gara makanan kurang (alaaah... catering itu biangnya pusing! Gak mungkin kan para undangan itu dikasih makan nasi uduk bikinan tetangga kayak ulang tahun gue dulu?).

Aarrrgghhh...

Pusiiiing... ternyata bener banget yang namanya nyiapin RESEPSI (kalau akadnya sih relatif lebih simpel) itu ribet banget banget bangeeed. Baru aja beberapa hari mulai nyiapin “Perhelatan akbar” alias “ospek-nya orangtua” ini, rasanya rambut gue udah mulai rontok lebih dari normal per hari nya.

Ya sudahlah... nikmatin aja. Tiap udah mau marah, kesel, nangis dan lain-lain gue selalu teringat kalimat sakti untuk gue dan Sapi (dan mungkin jutaan pasangan lain yang mau menikah):
“udahlah... iya-in [baca: nurut] aja! syukur-syukur udah boleh kawin!!!”

Jadi... inilah persembahan kami untuk: ‘bagian sosiologi orangtua Indonesia’

: )

Plus persembahan untuk Bapak. Karena akhirnya beliau harus masuk UGD gara-gara sakit pinggangnya kambuh setelah berjuang menyetir ke Bintaro (pake acara nyasar pula!). Untuk Ibu yang kemaren bangunin gue jam 6 pagi karena panik masalah gedung dan undangan plus catering. Untuk Papa (bokapnya Sapi) yang nge-booking gedung BPK dan Mama (nyokapnya Sapi) yang kemaren baru aja ulang tahun (dan tentu aja udah sibuk nanya-nanya [lagi-lagi] catering juga). Dan untuk kakak-kakak serta abang-abang kami yang turut membantu (dan menikmati) perhelatan “ospek orangtua” ini.

Satu hal... kita, gue dan Aris, jadi makin sayang sama mereka.
Keluarga dan keluarga baru kami.

Nb: selamat berjuang ya yang! Merdeka! Hehehe ;p