Monday, February 28, 2005

Berita duka cita...

Kucing itu telah kehilangan kesembilan nyawanya.

Sekarang ia – kucing tua buncit berekor pendek dan berbulu hitam putih – tergeletak kaku dengan mata terbuka di garasi rumah gue.

Damn! Dari sampai gue turun dari taxi jam 1 siang tadi, hidup gue udah oke. Habis ketawa-ketawa sambil main tebak-tebakan tadi pagi sama bokap di mobil, dilanjutkan dengan ngobrol dan ketawa-ketawa lagi sambil dengerin ‘putuss’ disusul nonton Oscar di Hard Rock sama Sapi. Belum lagi gak kuliah! Wah... mood gue udah oke banget untuk ngerjain kerjaan yang numpuk!!! Oh... pas gue turun dari taxi dan membuka pagar, keadaan berubah drastis.

Semuanya gara-gara gue iseng ngelewatin. Biasanya kucing itu setelah denger gembok dan pager dibuka langsung “ciao!”. Tapi, dia diam aja. Cuek. Pas gue perhatiin baik-baik... Kucing begundal yang gue benci. Kucing begundal yang sering numpang tidur, makan, berantem, having sex dan sering bikin mobil bokap beset-beset itu. Kucing begundal yang gue curigain sebagai titisan macan itu karena galak minta ampun... ternyata mati.

Alhasil, gue panik!

Langsung aja gue nelpon Sapi. Dengan baik hatinya dia menenangkan gue yang nyaris muntah untuk ngelupain si (alm) kucing, makan dan kerja! Dan dia memperingatkan biar gue : “jangan diliat lagi! Jangan penasaran!!”. Well... You know me too much pi.

Gue ngintip lagi dari jendela di kamar orang tua gue... (pembelaan: untuk yakinin kalau gue gak berhalusinasi).

And, curiousity kills the cat.

Makin panik. Mau nelpon Ibu biar cepat pulang. Salah nelpon ke Sapi. Diomelin. Berhasil nelpon Ibu dan (pas bicara sama Bapak) malah disuruh nutupin pake koran! Gila apa??!!! Gue teriak-teriak panik. Telpon terputus. Gue tambah panik.

Gue telpon juga Syeika dan Nunu. Juga gak meringankan penderitaan gue.

Ironis, kenapa gue yang nemuinnya? Disaat gak ada orang di rumah. Dua masalah besar; gue takut kucing dan gue takut mati. Jadi, kombinasi keduanya sudah pasti berefek buruk. Padahal, seandainya ada orang di rumah, mungkin (alm) kucing itu bisa dimakamkan dengan layak.

Kakak gue yang baik, Ika, tiba-tiba nelpon gue. Setelah nakut-nakutin gue pake suara 'hantu kucing. Dia memberikan solusi yang penting sampai gak penting :

1. tutupin si (alm) kucing pake koran, dan gue nutupnya sambil merem! (langsung gue tolak, gila apa?? Keluar aja gue gak mau).
2. minta tolong tetangga untuk nguburin. (gue mikir sebentar, terus gue tolak. Malu)
3. telpon Sapi. Minta dia dateng untuk ngubur. (gue tolak. Sapinya lagi rapat. Lagian, dia itu jurnalis palsu –hehe, piss pi!- bukan tukang kubur.)
4. langkahin kucingnya. Kali aja dia tiba-tiba hidup! (lansung gue tolak. Kakak gue memang udah sinting!)

Setelah dia capek ketawa-ketawa, ngecengin gue, dia nutup telpon dengan pesan: “kata ibu, kalau mau makan goreng ikan dulu. Bisa kan? Katanya mau belajar masak...”

Ha!Ha!Ha!

Huff... Sekarang, gue nulis sambil menahan rasa mual (dan lapar). Nunggu bokap yang belum bisa pulang gara-gara macet. Keluarga gue masih di rumah sakit nungguin keponakan gue yang kena muntaber. Pengen jenguk. Tapi ada mayat diluar. Maaf!

Eh, kayaknya gue kelewatan satu hal yang paling penting.

Bagaimana kucing itu mati?

Menurut gue sih serangan jantung. Tapi, kalau dipikir-pikir, ternyata gue sok tau! Kan gue belum pernah ngeliat kucing serangan jantung. Denger aja belum.

Tapi, bagaimanapun (alm) kucing itu mati sendirian. Unprepared. Di garasi rumah orang yang anak perempuannya aja gak suka kucing. Hmm... gue jadi kasian ama tu (alm) kucing. Karena gue yakin tempat ini bukan tempat favoritnya untuk kehilangan nyawanya yang terakhir. Tapi dia bisa apa?

Gimana kalau kucing itu gue... tiba-tiba aja nyawa gue melayang. Padahal gue belum melakukan hal-hal berarti. Dan (siapa tau), kejadian ini sebenarnya jawaban dari Yang Di Atas untuk pertanyaan gue, kebimbangan gue... yang gue pikirin selama di dalam taxi. Kebimbangan gue, apakah gue udah siap untuk melakukan “komitmen lebih lanjut” dengan Dia. Sepertinya, ini jawabannya :

Kalau gue harus mulai sekarang, sebelum semua terlambat.
Sebelum giliran gue menyusul si (alm) kucing. Sendirian.

....

Hmm... mual gue sudah mulai berkurang. Sebaiknya gue keluar untuk (ya.. at least) untuk nutupin dengan koran. Sebagai tanda terimakasih. Pertama dan terakhir.

Tapi, hari ini : Senin, 28 Februari 2005, gue berduka cita.

Selamat jalan wahai kucing begundal!

I (am gonna) miss you but I (still) hate you...

Vantrend

Hari Selasa tanggal 22 Februari 2005, hari yang menyenangkan.

Karena gue dan Sapi sama-sama lagi kosong. Jadi bisa hang out. Puas-puasin deh, ngobrol! Walaupun ternyata waktu yang ada kalah sama tenaga dan bahan obrolan kita untuk ngobrol. Terlalu banyak hal penting dan gak penting di dunia ini yang bisa dibahas. Gue baru sadar itu.

Tapi, yang paling gue inget hari itu adalah gue kena “serangan vantrend”. Sebuah jenis mobil yang rasanya jarang gue liat selama ini. Bahkan Sapi yang punya aja gak tau apa itu mobil vantrend sebelum dia memutuskan untuk beli.

Jadi (untuk yang gak tau) vantrend itu jenis mobil perpaduan antara kijang dan sedan. Panjang kaya kijang (gak sepanjang itu sih) dan pendeknya kayak sedan. Mobil mutan deh! Keluaran Mazda. Masih gak kebayang? Search aja deh di www.google.com . Gue juga bingung ngejelasinnya.

Oke... kembali ke topik. “serangan vantrend”. Pokoknya, hari itu gue ngeliat 13 vantrend selama perjalanan gue. Dari pas gue naik taxi ke tempat rendezvou, nunggu, sampai udah pas di mobil.

Rekor deh! Soalnya selama ini gue gak pernah liat sebanyak itu.

Atau, memang gue yang gak pernah sadar? Sampai saat itu.

Akhirnya, hal ini yang gue pikirin sambil nunggu di warung dan minum teh botol, nunggu si Sapi dateng. Selama itu, gue udah siap-siap mendekat setiap ngeliat vantrend (yang ternyata bukan punya Sapi.)

Iya ya, gue gak pernah sadar. Sampai ada satu yang “disodorin” langsung ke hadapan gue. Jangan-jangan selama ini, tetangga gue punya mobil vantrend. Tapi gue gak pernah ngeh, karena gue malah ngeliatin mobil lain. Kijang, sedan, BMW, Audi dan sebagainya.

Bagaimana kalau ternyata, vantrend yang gue cari selama ini?

Huff... Alhamdulillah kalau bener. Dan gue udah tau. Amin ya Allah... Amiiin!

Tapi, gak sembarang vantrend. Seperti ada 13 vantrend yang gue liat saat itu, dan yang gue tunggu Cuma satu.

Setelah gue tunggu beberapa menit. Datang juga vantrend itu.

B 2060 FI.

Pas gue buka pintu penumpang. Ada Sapi yang tersenyum ke gue. Nanya, udah lama atau belum. Gue tersenyum. Menggeleng. Gak lama kok, dibanding dengan apa yang gue dapet... Terus, tiba-tiba dia ngasih gue tahu gejrot. Makanan favorit gue. Yang lagi gue pengenin banget.

Rasanya benar, ini vantrend yang gue tunggu.

And... maybe everyone should start to find their own “vantrend” !!!

Singkong Goreng, Bumbu kacang dan Noda

Jumat, dua minggu lalu.

Nyokap gue lagi berbaik hati bawain gue singkong goreng dan bumbu kacang. Makanan favorit gue sedunia! Cocok untuk gue yang dinamis, butuh yang praktis-praktis tapi tetep tradisional-is dan tetep membuat gue manis. Ah jayus!

Ya hari itu gue dianter bokap, sambil sarapan singkong goreng. Diiringi pesan selamat jalan dari nyokap gue untuk makan dengan hati-hati agar bumbu kacang tidak tumpah. Sebagai anak yang baik saya mengangguk. Mengiyakan.

Gue makan dengan penuh kenikmatan dan hati-hati. Lagian gue lagi pake sweater favorite gue, gue gak mau ketumpahan!

Gue makan... makan... dan makan. Sambil bokap gue ngebut, karena buru-buru mau ngejar shalat Jumat di UI.

Gue makan... makan... dan makan. Sambil tetap hati-hati.

Tapi, sayangnya, singkong goreng dengan bumbu kacang itu terlalu nikmat, hingga membuat gue lupa ber’hati-hati’.

Ada dua noda di sweater biru gue. Itu juga bokap yang ngasih tau, setelah dia protes ngeliat sweater gue yang makin ketat. Untuk masalah ini, sepertinya sweaternya yang mengecil. Bukan gue yang melebar.

Mudah-mudahan noda itu bisa hilang. Tapi, noda itu jadi bukti betapa gampangnya fokus gue teralih dari satu hal ke hal yang lain.

Seperti, akhir-akhir ini gue lagi sering banget (menurut istilah Syeika) “hidup di dunia gue sendiri”. Sering banget nyuekin orang yang tiba-tiba ngomong ke gue, karena gue kehilangan fokus. Mereka nanya dan gak gue jawab.‘Diperparah’ kesibukan gue (Alhamdulillah!) tiba-tiba banyak. Sekarang, kebiasaan gue tiba-tiba hilang ketika jalan sama temen-temen gue dan berhenti seenaknya untuk baca kertas-kertas yang ditempel di PaKom (sejenis mading panjaaang berisi info di Fisip UI) berkurang. Muncul masalah ini lagi.

Mudah-mudahan gue bisa cepet ngilanginnya. Biar gak jadi
bad habit!

Dan berarti gue harus inget untuk nurunin sweater gue dari gantungan baju dibalik pintu untuk dicuci. Jangan ditunda-tunda lagi. Sebelum noda itu gak bisa hilang.

Ayo Gina! Fokus!


ps : Nu! maafin gue ya... dan SEMUA yang jadi "korban" gue.

Wednesday, February 23, 2005

I believe...

to know him is to love him

Monday, February 21, 2005

make it "rain"

This is my favourite lines from EVERWOOD (a TV series) . love it so much.

NARRATOR
It’s not just that snow makes everything pretty. Snow gives us all a second chance. Snow cleanses. Hiding the sins of all with no prejudices, favor or blame. Everything gets to be pure again. If only for little while. Which might be all you need.

well... change "snow" to "rain". Why? It's because (as simple as) We're Indonesian! :)

Pandora box

Bahkan disetiap keburukan pun ada kebaikan.
Dan inti dari semua kebaikan itu adalah kejujuran.


p.s : thanks pi. actually, it's more than "thanks"!

Friday, February 18, 2005

Percaya

“percaya” mungkin adalah kata yang paling absurd di muka bumi ini. Kedua setelah kata “hantu”. Gak kaget kalau banyak banget orang yang skeptis kalau sudah masuk ke dalam urusan percaya-gak-percaya. Makanya ada kontrak, orang gak bisa percaya lagi sama man-to-man-agreement. Ada perjanjian pra-nikah, orang (yang melakukannya) gak percaya kalo bisa terus-terusan bareng seumur hidup sama yang dia nikahin. Ada orang yang nyiapin sendirian terus hidup, karena gak bisa percaya lagi. Dan masih banyak lagi sodara-sodara. Wajar-wajar aja lah. Banyak orang munafik. (dan rasanya) lebih banyak lagi orang yang kecewa karena percaya. Rasanya tiap manusia udah pasti jadi korban karena percaya dan mengorbankan yang percaya.

Dan gue?

“gak percaya” pernah jadi nama tengah gue. Gue udah merasakan mengecewakan dan dikecewakan. you name it lah! Ah, kesannya gue udah kelamaan hidup. Toh, nyatanya iya. Apalagi (gue gak nyalahin ya...) ada orang-yang-amaaat-dekat-dengan-gue bilang: “jangan terlalu tergantung sama orang. Jangan terlalu percaya sama orang”. (bodohnya) gue malah mengambil langkah ekstrim: tergantung sama orang sekaligus gak percaya banget sama orang. Alhasil, gue terjebak dengan negative thinking yang bisa disebut ‘sakit’ juga. Dan selama gue bentuk jati diri gue, selama itu lah gue ngerasa hal itu normal senormalnya.

Apalagi, ketika orang-yang-amaaat-dekat-dengan-gue itu malah berbuat hal yang ngecewain gue. Pada saat itu gue kehilangan rasa percaya gue kepada siapapun di muka bumi ini, dan ‘siapapun’ yang ada ‘diatas’. Parah? Parah banget. Saat itu gue marah sambil tertawa. Nangis sambil ngelawak. Gue gak siap untuk nerima ternyata hasil percaya sedikit aja sama orang bisa fatal kaya gitu. Gue yang skeptik sama “percaya” akhirnya malah teriak “goblok!” ke setiap orang yang percaya.

Karena satu hal. Gue iri.

Gue ngiri sama orang yang masih bisa percaya.

Terutama ketika gue ‘ngeh’ ternyata di beberapa titik kehidupan diputar dengan poros kepercayaan. Dengan berat hati dan bismillah. Gue buka lagi lemari berdebu yang sudah digembok untuk ngeluarin ‘percaya’ itu. Gue kumpulin yang kemarin-kemarin gue lempar begitu aja di tempat sampah, atas lemari, dan kolong tempat tidur. Kerja keras deh. Sampai gue bengek gara-gara debu.

Hasilnya?

Rasanya sama kaya lo abis nyelesain baca buku yang lo suka banget tapi gak pernah sempet dibaca.

Jadilah gue sekarang orang yang (insya Allah) bisa percaya lagi. Dan gue kasih tau satu hal. Sihir tak membantu.

Semalam, ada orang yang bilang dia gak bisa percaya sama ‘sesuatu’. Belum lagi sahabat gue tercinta harus ngalamin yang gue sebut dengan titik-balik gue diatas tadi. Hmm... bingung. Karena rasa percaya kan field of experience orang masing-masing.

Serius gue bingung. Jadi kalo lo baca panjang lebar sampai kebawah ini. Cuma untuk tau kalo gue bingung. Bukan ngebaca suatu tindakan heroik.

Ah...

Mungkin sekarang waktunya gue untuk baca “bismillah” lagi. Untuk dua hal, ngebantu seseorang ngumpulin lagi keping-keping percayanya dan ngebantu yang lain untuk buka halaman selanjutnya (yang takut dibaca karena takut hilang rasa percayanya! Hey, tapi tenang itu pilihan...).

Karena apa?

Karena gue percaya.

mengejar ketertinggalan

Awalnya, gue mau membuat tulisan yang "wah" untuk tulisan perdana gue di blog gue yang baru-tapi-lama ini. Terutama karena gue dapet judul yang pas banget untuk diperlakukan seperti itu. Bikin tulisan yang bisa menginspirasi ke semua orang yang dengan sengaja membaca blog ini atau yang sekedar "tersasar".

Dan nyatanya? enggak...

Ternyata lompatan-lompatan ide di kepala gue, mati gitu aja, bersama datangnya kerjaan-kerjaan baru. Huff, batal-lah rencana suci gue untuk menginspirasi orang. Karena, bagi gue pribadi, blog ini salah satu jalan bagi gue (dan jutaan manusia lain penggunanya) untuk menuangkan ide atau penatnya hidup dan sebagainya (baca: gue males ngetik hal-hal lainnya).

Setidaknya, membiarkan gue berkhayal kalau gue seorang penulis macam Carrie Bradshaw di Sex and The City. Bersama (ah, gue harap!) pakaian-pakaian dan sepatu-sepatu bagus di lemari, untuk dipakai hang out bareng 3 sahabat gue atau nge-date sama cowok-episode-kali-ini.

Dan nyatanya? enggak...

Bukan apa-apa. Tenaga gue sudah habis sebelum dipakai untuk berkhayal!

Jadilah blog ini dipakai untuk "mengejar ketertinggalan" gue. Mengejar apa yang seharusnya bisa gue dapet jika seandainya aja selama bertahun-tahun hidup gue, gue gak bertindak ala drama queen!

Gak sok-sok trauma! Gak takut kena "blok ide"! dan terus menulis.

Hasilnya, sekarang gue harus :

1. Memanjat "tembok takut" gue.

2. Menghancurkan "boggart" gue. "ridicullus!!!". (bacalah atau tontonlah Harry Potter and The Prisoner Of Azkaban, teman!).

3. Melakukan "percepatan".

(ngomong-ngomong soal "percepatan") Apalagi, seminggu belakangan gue memang diajak omongin masalah "percepatan" sama dua orang terdekat gue.

Iya, "percepatan" yang itu.... yang ada di Fisika.

Gue gak nyangka, satu-satunya sub-bab di Fisika yang paling gue kuasain (dulu), muncul lagi dalam hidup gue. Dan, selama ini gue cuma mikir kalo meter per second kuadrat itu cuma berguna untuk nyetopin (alias "ngetok atep") mikrolet yang melaju kencang biar pas berhentinya di tempat yang gue mau. Damn! seharusnya gue lebih berpikir filosofis.

dan Blog ini, kini punya nilai lebih dibanding sekedar ikutan trend semata kaya friendster :)

Yaitu, menampung tulisan-tulisan gak jelas gue. Tempat latihan gue. Tempat curhat gue. (kalau lagi ada tenaga) Tempat gue ngayal jadi Carrie Bradshaw!

Apalagi ada iming-iming dari "seorang Sapi" yang mau nemenin gue untuk fokus dan cari apa yang gue mau. Mau nemenin kalau gue mau jadi seorang penulis (atau jurnalis palsu, hehehe) ataupun gue berakhir di bidang lain. Hmm... sangat menggiurkan, bukan?

Jadi, (seiring dengan doa mudah-mudahan tagihan telpon rumah gak mahal lagi) gue mengucapkan :

"Selamat datang ke kolam mimpi."